AFF Cup Sebagai Sebuah Kenikmatan

Hingar bingar reshuffle kabinet boleh menjadi isu hangat seminggu belakangan. Begitupun dengan pertarungan pilkada DKI yang tak henti-hentinya menjadi topik utama meski masih akan berlangsung satu tahun lagi dan DKI bukan hanya satu-satunya provinsi di republik ini. Obrolan warung kopi menyambut kembali pulangnya Sri Mulyani ke pangkuan pertiwi masih sangat ‘lezat’ untuk disantap bersama cemilan hangat khas Indonesia.

Ya, kita sebagai bangsa yang gemar cuap-cuap seakan tak pernah kehabisan bahan untuk dibahas, saya pribadi pun demikian. Sungguh bukanlah sebuah pekerjaan sulit menemukan perdebatan khas ILC di penjuru Indonesia. Buah manis dari kebebasan menyatakan pendapat di tingkat akar rumput.

Begitulah, kemarin malam ketika lagi asyik scroll-scroll timeline, sepintas terbaca cuitan yang berisi informasi drawing AFF Cup 2016 tengah berlangsung. Ya, AFF Cup, turnamen sepakbola paling akbar di Asia Tenggara, dan kita yang ditahbiskan menjadi spesialis finalis. Dari era Marié Muhammad sampai ke Sri Mulyani, kita setia menjadi finalis. Eh, Sri Mulyani bahkan sudah dua kali menduduki posnya, dan kita masih belum bisa membawa trofi AFF Cup ke Indonesia.

Tidak ada yang istimewa dengan gelaran AFF Cup kecuali fakta bahwa mayoritas kita menanti-nanti gelaran turnamen dua-tahunan ini. Dulu, boleh saja kita berteriak benci “Nurdin, Turun”, sembari mengantri tiket dari subuh untuk menonton Timnas berlaga di salah satu partai di GBK. Mengutuk federasi, sambil mem-booking flight untuk awaydays ke luar negeri pun pasti ada yang pernah melakukannya (termasuk saya). Sulit dijelaskan dengan logika, turnamen semenjana dengan daya pikat luar biasa. Yuk, awaydays lagi. Lah…..

AFF Cup sebagai turnamen paling realistis

Realitas bahwa AFF Cup adalah turnamen paling realistis bagi kita (abaikan Australia dan Thailand yang kini levelnya jauh diatas kita) merupakan faktor yang menjadikan AFF Cup selalu dinanti penikmat sepakbola lokal. Carut marut, benang kusut, dan rentetan tragedi sepakbola akan dengan mudahnya terhapus oleh euforia AFF Cup. Lihat saja laga AFF, apalagi fase knock-out, selalu mengundang puluhan ribu pasang mata, jadi lahan basah teman-teman calo dan penjual pernak-pernik Timnas di pelataran GBK. AFF Cup layaknya miniatur pasar rakyat, hingar bingar dan selalu meriah.

IMG_5244.JPG

Bukit Jalil – Malaysia v Indonesia – AFF Cup 2010

Bersyukur kita, edisi kali ini Timnas kesayangan kita semua tidak berlaga lewat fase kualifikasi, pot 4 drawing sejatinya sudah sangat tepat. Artinya, dengan segala masalah sepakbola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang tak perlu dibahas karena sangat memalukan, Timnas Sepakbola Indonesia masih diberi golden ticket untuk bertarung langsung di putaran final. Anugerah terindah, sekali lagi, termasuk buat saya. Gelaran di ujung 2016 nanti bisa kembali dinikmati, walaupun bisa saja dengan bumbu caci maki, serapah yang memang kerap muncul menemani perjalanan Timnas kita.

DSC_0094

SUGBK – Indonesia v Kamboja – AFF Cup 2008

Tulisan kali ini tidak akan membahas analisis taktikal dan materi tim yang kini tengah disusun Alfred Riedl. Riedl bukanlah orang baru, meski orang-orang disekelilingnya ya masih itu-itu juga. Sebagai seorang pelatih profesional, Riedl tentu ingin meraih puncak prestasi di turnamen kali ini, sama seperti impian kita semua. 47 pemain dipanggil seleksi merebut Jersey Garuda, dengan sangat sedikit pemain naturalisasi, tren cukup bagus dengan memanggil banyak nama baru yang masih muda, walaupun sebenarnya mereka lahir dari ketidakpastian kompetisi.

2 Agustus, saat drawing selesai, beragam reaksi muncul.

Thailand, sang juara bertahan, yang walaupun mengirim Tim B-nya akan sangat sulit dikalahkan, Singapura yang selalu menyulitkan, dan Filipina dengan bule-bule  yang kini tampaknya semakin solid akan jadi kompetitor berat. Ada yang berargumen lolos dari fase grup saja sudah bagus, ada yang bilang peluang juara masih terbuka, ada yang berujar grup neraka, dan segala kemungkinan lain yang pada intinya bilang Indonesia harus bekerja ekstra untuk setidaknya finish di urutan kedua grup A. Well, seperti kata pengamat komunikasi yang sering nongkrong di TV, semua masih bisa terjadi, termasuk kemungkinan menjadi juru kunci.

Memori “Markus, Fery, Kurnia Jangankan bola anginpun tak boleh lewat” mungkin tak akan bisa kita nikmati lagi di gelaran kali ini. Ya, bukan berarti kita sudah pasti tak lolos semifinal, tapi memang zamannya telah berganti. AFF Cup sekali lagi, meninggalkan terlalu banyak kisah buat kita, hingga mungkin kita lupa Agustus ini atlet-atlet kita di Brazil berjuang memberi kado terindah buat Indonesia, mencoba memutar lagu Indonesia Raya di level dunia. Sepakbola, tetap jadi primadona.

Masih tersisa tiga bulan lagi sebelum gelaran AFF Cup 2016 resmi dimulai. Persiapan demi persiapan pasti sudah direncanakan, uji tanding + rangkaian program TC buat Timnas biasanya sudah dibuatkan, meski kadang-kadang sering dibatalkan. Walaupun sebenarnya, persiapan terbaik ada pada kompetisi yang baik pula. Tapi ya, yes we can, seperti kalimat motivasi Peter Withe dulu.

Manila 1991, 25 tahun yang lalu. Tapi ya kita juga pernah punya Manila 2005, 11 tahun yag lalu saat Timnas terpuruk dan tampil seadanya. Semua berharap, sekali lagi, termasuk saya, Timnas AFF 2016 bisa pulang dengan prestasi tertinggi. Membalikkan semua teori dan prediksi, mengangkat trofi dan menjadi bagian dari daftar Juara di AFF Cup. Saya dan mungkin mayoritas penikmat lainnya, hanya bisa duduk manis di depan TV, menikmati AFF Cup dengan sederhana, berteriak saat Timnas mampu membobol gawang lawan, menikmati fenomena demam Timnas, sembari berdoa sebelum juara tak ada undangan makan siang bagi para punggawa.

Saya hanya ingat pesan bu Sri, jangan pernah lelah mencintai negeri ini. Meski dengan cara gila seperti saya, menaruh harapan pada sepakbola Indonesia, bertahun dan berpuluh-puluh tahun dan kemudian hampa.

Selamat datang AFF Cup 2016, Semoga semifinal ketemu Malaysia, namanya juga cita-cita. Hahaha…

Sebuah Pesan dari Manama

Bayangan kelam malam itu belum juga terhapus. Ya, malam dimana saya, seorang anak kecil berumur 12 tahun, menyaksikan sebuah peristiwa yang amat sangat memalukan. Timnas Indonesia ‘dipaksa’ melakoni sepakbola gajah atas kepentingan strategi. Malam dingin dengan latar stadion berlumpur itu jadi saksi bisu betapa sepakbola Indonesia sebenarnya telah lama jatuh ke tangan orang-orang yang salah. Saya tak akan pernah mau menyebut peristiwa memalukan itu adalah andil individual Mursyid Efendi, atau kerdilnya Timnas memaknai sportifitas dan daya juang. Sepakbola Gajah adalah kesalahan kolektif dan klimaks dari bobroknya sepakbola kita. Tragedi sepakbola yang masih terus berlanjut dua dasawarsa setelahnya.

Mursyid Effendi, Andi Muhammad Guntur, bahkan Alm. Jumadi Abdi adalah sederet aktor yang tak bisa disalahkan dalam rangkaian tragedi sepakbola, mereka adalah korban yang paling nyata. To be fair, semua dan hampir seluruh elemen yang terlibat dalam sepakbola punya andil dalam mengantarkan sepakbola Indonesia ke episode terburuk dalam sejarah perjalanannya. Mistrust dan distrust terhadap PSSI sebagai otoritas sepakbola tertinggi telah berlangsung sejak lama. Kecenderungan seperti itu diperparah dengan minimnya prestasi, bahkan untuk level asia tenggara. Rendahnya tingkat kepercayaan terhadap wasit seringkali memicu perilaku onar di atas lapangan. Tawur antar supporter jamak dan masih terus terjadi. Sepakbola Indonesia koma.

Akumulasi dari semua masalah sepakbola adalah ketika dua kepentingan berkompetisi tidak sehat dalam perebutan kekuasaan sepakbola. Atas nama cinta, sepakbola (sengaja) dilukai.

Kita terus dihukum. Kita seakan dipaksa untuk mengikhlaskan Timnas yang tak lolos fase grup Sea Games. Kita dipaksa untuk menikmati penantian dua dasawarsa. Kita diberi perintah untuk memaklumi dan berbesar hati saat Timnas dipermalukan di Manama. Kita tak sengaja menertawakan diri sendiri saat Hendri Mulyadi melampiaskan kekesalannya. Kita yang amat sangat cepat lupa saat gerbang SUGBK tak kuasa menahan harapan yg memuncak lantas mengorbankan nyawa manusia. Sepakbola, telah memberi banyak pelajaran, hingga kita tak bisa memetik satupun dari sana. Kita, bangsa yang terlalu angkuh dengan torehan satu medali emas Sea Games Manila.

Dualisme menghancurkan saluran integrasi yang telah dengan anggun dibangun oleh sepakbola. Dualisme menghentikan potensi warga Tapak Tuan berteriak “Indonesia” serentak dengan warga di Tahuna. Dualisme memupus kebanggaan TKI di Hongkong akan negeri yang memaksanya mengadu nasib disana. Dualisme melumpuhkan sepakbola, membunuhnya perlahan bersama harapan dan besarnya kebanggaan kita semua akan Indonesia.

Dalam situasi seperti sekarang, rekonsiliasi akan lebih terasa manfaatnya ketimbang romantisme yang terkandung dalam sepenggal revolusi. Mereka yang merasa mencintai sepakbola harus menanggalkan egonya. Sepakbola kita terpuruk dan harus diselamatkan. Kebenaran adalah kebesaran hati untuk tak lagi menyelipkan kepentingan dalam kalimat normatif : “Kami ingin bangun sepakbola Indonesia”. Dua puluh tahun rasanya sudah cukup untuk mengakhiri semuanya. Tak ada lagi yang harus diselamatkan, kecuali kepentingan republik ini. Berhentilah tuan, akhirilah episode kelam ini.

Manama mengajarkan kita untuk berhenti bersembunyi di balik tiap kegagalan. Berhentilah menghakimi Andre El-Haddad atas kualitas permainan kita yang memang belum menyentuh level Asia. Sepuluh gol tanpa balas adalah puncak dari semuanya. Hadiah yang harus diterima dari kisruh yang terus mereka pelihara. Ketika mereka berpikir tentang Indonesia, maka harusnya mereka meninggalkan sifat kekanakan, saling menyalahkan dan mencari pembenaran. Berhentilah mengkampanyekan sepakbola profesional dengan terus menyalahkan masa lalu atau menggelar kongres untuk kembali merasakan empuknya tampuk kuasa. Sepakbola Indonesia butuh hal yang lebih besar ketimbang hal kerdil tersebut.

Ketika kita semua berpikir tentang Indonesia, maka seorang Spartack’s yang pasti amat sangat bangga melihat Hengky Ardilles mengenakan kostum Garuda, akan setuju kalau Zulkifly ataupun Hasim Kipuw juga pantas diberi kesempatan bersaing dengan Hengky.

Ketika kita dan mereka semua berpikir tentang Indonesia, maka sepakbola akan kembali pulih dan menyatukan kita. Ya, karena lewat sepakbola, kita diberi kesempatan untuk berteriak bangga “Indonesia”. Maka atas nama Indonesia, kami menyerukan kepada tuan-tuan semua untuk mengakhiri perseteruan, mengembalikan keanggunan sepakbola, menjadikannya sesuatu yang bisa menyembuhkan luka yang tengah menganga di negeri ini, Indonesia.

*foto ilustrasi dari guardian.co.uk
-sepakbolaisme-
06032012

Sebuah Perjalanan Mengawal Kebanggaan….

Di penghujung tahun 2009, saat mayoritas orang membuat resolusi tentang harapan apa yang ingin diwujudkan di 2010, saya membuat harapan yang terdengar tak biasa. Di tahun 2010 saya ingin mewujudkan mimpi mendukung Tim Nasional di luar negeri, travelling supporter lah kerennya. Resolusi yang terdengar sedikit gila memang. Di tahun 2010 akan ada gelaran AFF Cup yang semifinal dan final nya dimainkan home-away. Ini kesempatan dan awal dari sebuah mimpi yang akhirnya terwujudkan.

Saat dunia takjub dengan gol salto spektakuler Widodo C. Putro ke gawang Kuwait di Piala Asia 1996 saya belum genap berusia 9 tahun. Gol itulah yang mengenalkan saya kepada Tim Nasional dan akhirnya ditakdirkan untuk jatuh cinta. Kecintaan yang sampai kini tetap terjaga. Kecintaan yang tak bisa dijelaskan namun berkesan mendalam. Saya tidak akan mungkin melewatkan laga Timnas walaupun hanya bisa menonton layar televisi. Saya ingat, ketika masih anak-anak, saya harus merengek kepada Ayah untuk dibelikan antena parabola agar bisa menonton pertandingan Timnas yang disiarkan TV swasta.

tas berisi ‘amunisi’ seorang pengawal tim nasional..

Kaki saya akan mendadak dingin sesaat sebelum Timnas memulai laganya. Sebuah kecenderungan ‘aneh’ untuk anak seusia saya waktu itu. Ada rasa yang tak biasa, ketegangan dan perasaan bangga luar biasa tiap melihat Garuda berlaga. Lewat sepakbola, saya akhirnya diyakinkan bahwa ‘Indonesia Raya’ adalah Lagu kebangsaan yang akan terasa magis-nya bila dinyanyikan di Stadion.

The National Team comes before everything. Pernyataan yang tak bisa saya tampik dan justru membuat kecintaan kepada Tim Nasional saya semakin menjadi. Tim Nasional buat saya bukan sekedar kumpulan sebelas orang dengan status pemain terbaik negeri ini, Tim Nasional adalah representasi kebanggaan dan kebesaran yang harus saya kawal setiap berlaga. Dan mendukung Tim Nasional adalah kebanggaan tertinggi seorang supporter seperti saya. Titik.

Semalam di Malaysia sebagai pengawal Garuda…

Saat penjaga gawang Filipina, Neil Etheridge, mengelilingi GBK sehabis semifinal Leg-II, spontan saya berucap : “Berangkat, kita.”? Pertanyaan yang langsung diiyakan teman di sebelah saya. Malam itu kami berdua bersepakat, bahwa tiket pesawat ke Malaysia harus sudah di tangan paling lambat esok harinya. Sepanjang perjalanan keluar dari komplek SUGBK perbincangan kami pun hanya tentang Bukit Jalil, tempat mimpi saya, mimpi kami yang akhirnya berubah menjadi kenyataan.

Paspor yang sengaja dibuat untuk mengawal Garuda. Poto nya pun sengaja pake jaket Timnas.

Perjalanan ke Bukit Jalil adalah perjalanan pertama kami pergi keluar nusantara. Sebuah perjalanan yang bukan sekedar menjawab tuntutan resolusi, tuntutan euphoria Tim Nasional yang sekarang sedang menggelora ataupun dorongan sentimental terhadap Malaysia. Ini adalah sebuah perjalanan mengawal kebanggaan, sebuah perjalanan dimana akhirnya cinta dan mimpi berada di satu ruang yang sama dalam keanggunan sepakbola.

Bukit Jalil dalam bayangan saya adalah sebuah stadion megah, namun itu tidak menjadi perhatian utama saya nanti. Bukit Jalil adalah tempat saya dan teman-teman Indonesia akan menyanyikan Indonesia Raya, berteriak mendukung punggawa Garuda yang berjuang mengembalikan kembali kebanggaan yang telah lama hilang. Menyanyikan Indonesia Raya bersama teman-teman TKI adalah kehormatan tersendiri bagi saya, mereka adalah pahlawan, pahlawan yang meninggalkan negerinya karena tidak bisa melihat harapan di negeri yang sebenarnya sangat kaya. Momen seperti inilah yang memacu semangat saya untuk segera tiba di Tanah Malaya.

Pakaian kebesaran seorang Legenda, siap mengawal Garuda di bumi Malaya.

Maka, izinkanlah kami pergi mengawalmu Garuda. Mengawal sebuah kebanggaan dengan satu semangat yang sama, satu harapan yang sama. Negeri ini adalah sebuah harapan yang harus selalu kita jaga dan sepakbola adalah cara yang paling tepat untuk menjaga kebanggaan itu saat ini. Kepergian kali ini bukan sekedar pelesiran menonton sepakbola, melainkan sebuah perjalanan mengawal kebanggaan.

“Ini Tugas Negara” meminjam apa yang pernah disampaikan Christian Gonzales.

@sepakbolaisme

24/12/2010